Tidak Untuk Narkoba, Tahun 2017 Sudah 26 Ribu Menjadi Pecandu

by -40 views

Indonesia darurat Narkoba bagi pengedar hukuman mati itu arahan langsung dari Presiden kita Bapak Joko widodo. Saya sebagai Ketua Gerakan Anti Narkotika (GARAKA) Kepri melihat di Indonesia ini jumlah pecandu semakin tahun angkanya bukan menurun tapi malah meningkat.

BNN di Kepri pernah meneliti tahun 2017 lalu, sebanyak 26.540 hampir penduduk Kepri adalah sebagai pengguna Narkoba, sedangkan yg ikut program rehab sejumlah 700 orang.

Untuk skala Nasional jumlah penyalahgunaan narkoba di tanah air mencapai 3,5 juta orang dan 1juta di antaranya sudah menjadi pencandu berat. 1,4juta pencandu masih terbilang ringan. Sangat miris mendengarnya, bukan dikala anak muda lagi bahkan dari umur 50 sampai belia.

Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga bisa merasuki seluruh elemen yang manapun tanpa terkecuali karena “barang haram” ini sangat menjanjikan dari segi finansial. Siapapun orangnya jika tidak bisa membentengi diri dengan pemahaman agama dan lingkungan yang sehat maka bisa terjerumus seketika itu juga.

Ada beberapa alasan sebagian orang-orang terjerumus dalam penyalah gunaan narkoba ini yaitu :

Alasan yang pertama kenapa narkoba bisa menghancurkan masa depan anak muda yaitu : Anak-anak muda yang semestinya menjadi calon-calon penerus bangsa akan hancur masa depannya jika terjerumus ke dalam lingkaran narkoba. Jangankan menjadi masa depan bangsa, masa depan mereka sendiri pun akan rusak akibat dari barang haram ini.

Hal ini dikarenakan narkoba akan menciptakan generasi- generasi yang ketergantungan pada barang tersebut , yaitu generasi yang sudah menjadi pecandu tidak bisa lagi lepas dari narkoba, antara lain dampaknya Mati, masuk rumah sakit atau menjadi gila.

Alasan yang ke dua adalah narkoba bisa mematikan kreatifitas anak bangsa. Anak muda yang semestinya memiliki daya kreatifitas yang tinggi.

Di masa-masa inilah mereka bisa menemukan pemikiran-pemikiran baru, menemukan inovasi kreatifitas dan berprestasi. Namun, apa yang terjadi ketika mereka masuk ke dalam jurang narkoba ? Mereka akan kehilangan itu semua. Narkoba ini perlahan-lahan akan mematikan sel-sel otak mereka sehingga lama kelamaan otak mereka tidak mampu lagi berpikir untuk menciptakan ide-ide kretifitas dan yang ada di dalamnya hanyalah narkoba.

Jika otak mereka sudah terkontaminasi oleh nakoba, maka tidak ada lagi kreatifitas yang tersisa yang ada hanyalah kehancuran pola pikir, hati, sosial.

Alasan yang terakhir para pecandu narkoba yaitu menjadi generasi kriminal. Para remaja yang sudah terjerumus ke dalam lingkaran setan ini akan terus-menerus dipaksa untuk memenuhi keinginan mereka terhadap narkoba.

Akibatnya, mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan barang haram itu, termasuk dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum, seperti mencuri, merampok, menipu dan membunuh.

Semua yang dilakukan itu tidak lain karena narkoba yang telah merusak otak dan jiwa mereka. bahwa hampir semua pengguna Narkoba mengetahui bahaya dari Narkoba, namun hanya sedikit yang bersedia dan berhasil untuk menghentikan kebiasaannya tersebut.

Ancaman penyakit seperti HIV, AIDS,Hepatitis dan kangker yang mengintai tidak cukup membuatnya jera untuk para pacandu menghentikan kebiasaannya  

Narkoba  di satu sisi merupakan suatu  yang dibenci dan dicoba untuk dihindari, namun disatu sisi yang lain dianggap sebagai sahabat setia yang terus dicari dan dijadikan sebagai salah satu alat pergaulan.

Narkoba dipandang sebagai masalah yang paling mendesak untuk ditangani dan dikurangi , karena mengandung pelbagai senyawa beracun dan bersifat karsinogenik  (dapat menyebabkan keganasan). 

Para ahli terus melakukan penelitian untuk mencari jawaban atas pertanyaan penyebab dari kebiasaan mecandu pada tiap tahapan usia.

Berbeda dengan kebiasaan mecandu yang dilakukan oleh remaja  yang lebih karena usahanya dalam mencari jati diri atau tekanan dari kelompok sebaya maka kebiasaan menggunakan putauw pada usia dewasa selain sebagai akibat kebiasaan merokok yang dilakukan semenjak usia remaja juga merupakan usaha untuk melarikan diri dari perasaan frustrasi dan depresi sebagai akibat dari lingkungan kompetitif  yang dihadapinya.

Fenomena penyalahgunaan zat mempunyai banyak implikasi untuk penelitian. Dikatakan bahwa beberapa zat dapat mempengaruhi perilaku baik internal , misalnya :mood  ataupun eksternal yaitu perilaku yang dapat diamati oleh orang lain. Dalam hal ini dikatakan bahwa penggunaan psikotropika, termasuk putauw dengan kerusakan fungsi otak adalah berhubungan erat.

Dalam hal ini , penanganan yang lebih serius untuk mencegah semakin luasnya penyebaran narkoba perlu dilakukan secepatnya agar efek merusak  pada kalangan remaja dapat dicegah sedini mungkin mengingat bahwa biaya  yang digunakan untuk melakukan rehabilitasi narkoba telah mencapai 200 milyar dolar pada tahun 1990-an di Amerika.

Hal ini juga berdampak bagi pemasukan devisa bagi sebagian besar negara di dunia . 

Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba untuk mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Walau ikhtiar yang di lakukan masih terus berkesinambungan.

Peran dan dukungan dari Pemerintah Pusat sampai ke daerah sangat di perlukan kerja sama yang ekstra. Untuk memberantas narkoba ini tidak serta merta langsung selesai kecuali para “gembong” nya di hukum mati. Menurut pendapat saya, hukum di Indonesia sangat lemah sehingga disinilah celah para pengedar dengan gampang untuk masuk menjual “barang haram” ini.

Oleh karena itu, pemerintah perlu bekerjasama dengan seluruh masyarakat, OKP, Ormas, LSM dan komunitas untuk ikut serta dalam pemberantasan Narkoba khusus nya di kota gurindam ini.

Akhir kata saya sebagai Ketua UMUM Gerakan Anti Narkotika Kepri mengajak seluruh elemen terkait khususnya di kota gurindam ini untuk BERSIH DARI NARKOBA, DAN KATAKAN TIDAK UNTUK NARKOBA!

SELAMAT HARI ANTI NARKOTIKA INTERNASIONAL. KITA SELAMATKAN NASIB DAN MASA DEPAN BANGSA DARI NARKOBA.

SAY NO TO DRUGS.

(HAMAS MUSLIM SUNI, S.SOS, KETUA UMUM GERAKAN ANTI NARKOTIKA PROVINSI KEPRI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *